100 Urutan Chipset HP Terbaik sampai Terendah Terbaru 2026

Urutan Chipset HP Terbaik sampai Terendah

Kalau dulu orang beli HP cuma lihat kamera sama RAM, sekarang beda cerita. Tahun ini yang jadi bintang utama bukan lagi megapixel atau refresh rate, tapi chipset.

Karena ya jujur aja… chipset itu otaknya HP lo.

  • Mau kamera 200MP? Kalau ISP-nya lemot, hasilnya biasa aja.
  • Mau main game 120 FPS? Kalau CPU-GPU-nya ngos-ngosan, ya drop frame.
  • Mau fitur AI canggih? Kalau Neural Engine-nya cupu, siap-siap loading lama.

Sekarang perang chipset makin barbar:

  • Fabrikasi 3nm makin matang, terutama TSMC N3P.
  • AI processing pindah ke on-device, bukan cuma cloud.
  • Brand mulai bikin chip sendiri, kayak Xiaomi dengan XRING.
  • Qualcomm dan MediaTek gak mau kalah, saling jegal di kelas flagship.

Intinya?

Kalau lo salah pilih chipset di 2026, lo bakal nyesel 2–3 tahun ke depan.

Sekarang kita bahas kasta dewa dulu.

[ez-toc]

Top 10 Chipset Terbaik di Dunia 2026

Ini daftar chipset yang bisa dibilang “rata kanan tanpa kompromi”.

1. Apple A19 Pro: Efisiensi Gak Ada Lawan

Apple A19 Pro itu tipikal anak ranking satu yang gak pernah ribut tapi selalu juara.

Dibangun di fabrikasi TSMC 3nm N3P, efisiensinya luar biasa. Skor AnTuTu memang “cuma” sekitar 2,5 jutaan, tapi stabilitasnya itu lho… susah dilawan.

Yang bikin bahaya adalah Neural Engine-nya. AI processing kayak generative image, video enhancement, sampai real-time translation jalan halus tanpa bikin HP panas berlebihan.

Buat content creator? Ini senjata perang.

2. Snapdragon 8 Elite Gen 5: Monster Android 4 Jutaan Skor

Nah kalau ini beda karakter. Snapdragon 8 Elite Gen 5 itu anak gym.

CPU Oryon tembus 4.6 GHz. GPU Adreno generasi baru. Skor AnTuTu? Hampir 4 juta.

  • Main game berat? Rata kanan.
  • Ray tracing? Santai.
  • AI model lokal? Gas terus.

Ini chipset yang bikin Android flagship 2026 berasa kayak konsol mini.

3. Dimensity 9500: MediaTek Lagi Gak Main-Main

Dulu MediaTek sering diremehkan. Sekarang? Jangan salah.

Dimensity 9500 pakai konsep all big core Cortex-X5. Artinya? Semua core kencang. Gak ada yang kaleng-kaleng.

Skornya tembus 4 jutaan juga. Dan ray tracing hardware Gen-2 bikin performa grafisnya makin matang.

Kalau Snapdragon itu anak gym, Dimensity 9500 ini atlet MMA. Brutal di semua sisi.

4. Dimensity 9400 Plus: Upgrade Halus Tapi Nendang

Versi Plus ini ibarat facelift yang ternyata performanya naik signifikan.

Core X925 bikin single-core makin ngebut. Tapi yang unik justru fitur Bluetooth jarak jauh sampai 10km (line of sight). Buat ekosistem device, ini keren banget.

MediaTek makin kreatif, bukan cuma ngejar skor.

5. Snapdragon 8 Elite (Gen 4): Awal Era Oryon

Ini chipset transisi yang penting banget. Arsitektur Oryon pertama di Android bikin lompatan performa signifikan dibanding generasi sebelumnya.

Skor 3 jutaan di AnTuTu masih sangat relevan di 2026. Banyak flagship killer pakai ini karena balance antara harga dan tenaga.

6. Apple A19 : Versi “Standar” Tapi Standarnya Apple

Apple A19 itu contoh nyata kalau Apple gak pernah bikin chipset nanggung.

Secara positioning memang di bawah A19 Pro. Tapi performanya tetap brutal. Bahkan di beberapa skenario, dia bisa ngasih pengalaman yang lebih stabil dibanding generasi Pro lama.

Dipakai di iPhone standar, A19 ini jadi sweet spot buat orang yang pengen performa flagship tanpa harus bayar mahal buat varian Pro.

  • Multitasking? Gak kedip.
  • Gaming? Stabil.
  • AI fitur iOS terbaru? Jalan semua.

Ini chipset yang mungkin gak heboh di angka, tapi di real life rasanya “mahal”.

7. Apple A18 Pro: Si Legendaris yang Masih Relevan

Ini chipset yang sempat jadi rajanya iPhone 16 Pro.

Dan di 2026? Masih sangar.

Kenapa? Karena Apple itu jagonya optimasi. Jadi walaupun secara generasi udah lewat, performanya tetap stabil, gak gampang throttling, dan dukungan iOS masih panjang.

Kalau lo beli HP pakai A18 Pro sekarang dengan harga lebih turun? Itu definisi worth it tanpa drama.

Kadang mantan flagship itu justru lebih rasional dibanding flagship baru.

8. Xiaomi XRING O1: Si Pendatang Baru yang Bikin Panas

Ini yang bikin industri chipset 2026 makin seru.

Xiaomi XRING O1 bukan sekadar “coba-coba”. Ini serius.

Fabrikasi 3nm, performa masuk level flagship, dan positioning-nya jelas: Xiaomi gak mau selamanya bergantung ke Qualcomm atau MediaTek.

Performanya memang belum sesempurna Snapdragon atau Apple dalam hal optimasi jangka panjang. Tapi potensinya? Gede banget.

Kalau generasi kedua dan ketiganya makin matang, bukan gak mungkin XRING jadi ancaman serius di pasar flagship global.

9. Apple A18: Stabil dan Efisien, Gak Banyak Drama

Apple A18 ini sering diremehkan karena bukan Pro. Padahal performanya masih sangat kuat.

GPU 5-core-nya cukup banget buat gaming berat, dan efisiensinya juara. Buat orang yang pakai HP seharian — kerja, scroll, streaming, foto — chipset ini tuh bikin hidup tenang.

Jarang panas, jarang drop performa, dan update software panjang.

Kadang yang stabil itu lebih enak daripada yang terlalu ambisius.

10. Dimensity 9400: Balanced Fighter

Dimensity 9400 ini bisa dibilang paket komplet.

Fabrikasi 3nm Gen-2 bikin dia efisien. GPU Immortalis MP12-nya juga bukan kaleng-kaleng. Gaming lancar, AI oke, multitasking aman.

Kalau Snapdragon sering identik dengan “branding kuat”, Dimensity 9400 itu lebih ke silent killer.

Buat brand Android yang mau flagship tapi gak mau harga kelewat tinggi, ini biasanya jadi pilihan yang rasional.

Hierarki Chipset 2026: Sistem Tier List

Kalau cuma urutan 1 sampai 100 doang, orang bakal mumet. Makanya gue bikin sistem kasta.

Tier S: Ultra (Dewa Gaming & AI)

Ini buat lo yang mau HP 4–5 tahun ke depan masih sangar.

  • Main game berat setting mentok? Aman.
  • Editing video 4K? Santai.
  • AI generatif lokal? Gas.

Tapi ya siapin budget juga.

Tier A: High-End

Biasanya mantan flagship atau flagship killer.

Snapdragon 8 Gen 2 / Gen 3, Dimensity 9200 series masih kuat banget. Di 2026 ini masih sangat worth it.

Kalau lo mau performa tinggi tapi gak mau harga selangit, ini sweet spot.

Tier B: Mid-Range Ngebut

Ini kelas paling ramai di Indonesia. Snapdragon 7 series, Dimensity 8000 series. Gaming masih enak, multitasking aman, kamera processing cukup kencang.

Buat 80% orang? Ini udah lebih dari cukup.

Tier C: Daily Driver

Ini buat:

  • Chatting
  • TikTok
  • Netflix
  • Game ringan

Helio G series dan Snapdragon 6 series biasanya nongkrong di sini. Bukan buat flexing skor, tapi buat hidup tenang.

100 Urutan Chipset Terbaik 2026

No Chipset Skor AnTuTu Tier
1 Qualcomm Snapdragon 8 Elite Gen 5 2.449.060 S
2 A19 Pro 2.434.710 S
3 MediaTek Dimensity 9500 2.319.961 S
4 A19 2.172.965 S
5 A18 Pro 1.998.118 S
6 Qualcomm Snapdragon 8 Elite 1.990.417 S
7 Qualcomm Snapdragon 8 Gen 5 1.933.243 S
8 A18 1.866.025 S
9 MediaTek Dimensity 9500s 1.852.350 S
10 MediaTek Dimensity 9400+ 1.797.423 S
11 MediaTek Dimensity 9400 1.788.839 A
12 A17 Pro 1.757.636 A
13 A16 1.679.165 A
14 Mi XRing O1 1.582.587 A
15 A15 1.521.110 A
16 MediaTek Dimensity 9400e 1.499.832 A
17 Samsung Exynos 2500 1.437.726 A
18 Qualcomm Snapdragon 8s Gen 4 1.416.433 A
19 MediaTek Dimensity 9300+ 1.382.983 A
20 Qualcomm Snapdragon 8 Gen 3 1.372.529 A
21 MediaTek Dimensity 9300 1.344.087 A
22 A14 1.334.168 A
23 Samsung Exynos 2400 1.265.238 B
24 MediaTek Dimensity 8450 1.233.216 B
25 MediaTek Dimensity 8400-Turbo 1.232.538 B
26 MediaTek Dimensity 8400-Max 1.193.101 B
27 MediaTek Dimensity 8400-Ultra 1.153.954 B
28 A13 1.048.392 B
29 Qualcomm Snapdragon 8s Gen 3 1.023.936 B
30 MediaTek Dimensity 9200+ 1.022.511 B
31 MediaTek Dimensity 9200 1.003.162 B
32 Qualcomm Snapdragon 8 Gen 2 952.809 B
33 Google Tensor G4 925.515 B
34 MediaTek Dimensity 8350 Ultimate 907.369 B
35 Qualcomm Snapdragon 7+ Gen 3 905.324 B
36 A12 818.601 B
37 MediaTek Dimensity 9000+ 814.697 B
38 MediaTek Dimensity 8350 807.642 B
39 Google Tensor G3 800.832 B
40 MediaTek Dimensity 8300-Ultra 796.852 B
41 MediaTek Dimensity 9000 786.290 B
42 Qualcomm Snapdragon 8+ Gen 1 782.767 B
43 Samsung Exynos 2200 773.051 B
44 Qualcomm Snapdragon 7 Gen 4 738.579 B
45 Qualcomm Snapdragon 8+ Gen 1 UC 728.272 B
46 MediaTek Dimensity 8250 681.908 B
47 HiSilicon Kirin 9020 680.418 B
48 Qualcomm Snapdragon 7+ Gen 2 672.317 B
49 MediaTek Dimensity 8200/8200 Ultra 661.580 B
50 Qualcomm Snapdragon 8 Gen 1 655.840 B
51 HiSilicon Kirin 9020A 647.346 B
52 Google Tensor G2 644.730 B
53 Qualcomm Snapdragon 888 Plus 609.011 B
54 Qualcomm Snapdragon 7 Gen 3 607.094 B
55 MediaTek Dimensity 8100-Max 606.490 B
56 MediaTek Dimensity 8100 599.131 B
57 Qualcomm Snapdragon 888 598.064 B
58 Qualcomm Snapdragon 870 587.845 B
59 Qualcomm Snapdragon 865 Plus 585.852 B
60 Samsung Exynos 1480 583.238 B
61 HiSilicon Kirin 9010 573.577 B
62 Qualcomm Snapdragon 7s Gen 3 572.667 B
63 Qualcomm Snapdragon 865 555.091 B
64 HiSilicon Kirin 9000s 542.821 B
65 HiSilicon Kirin 9000 539.852 B
66 HiSilicon Kirin 9000E 531.347 B
67 MediaTek Dimensity 8000 527.011 B
68 Qualcomm Snapdragon 6 Gen 4 523.312 C
69 HiSilicon Kirin 9010E 516.866 C
70 HiSilicon Kirin 9010L 515.658 C
71 Google Tensor 511.865 C
72 HiSilicon Kirin 9000S1 510.624 C
73 MediaTek Dimensity 1300 505.476 C
74 MediaTek Dimensity 7200-Ultra 498.161 C
75 MediaTek Dimensity 8050 495.553 C
76 MediaTek Dimensity 7200 492.978 C
77 Samsung Exynos 2100 485.315 C
78 MediaTek Dimensity 1200 484.364 C
79 HiSilicon Kirin 990 5G 480.231 C
80 HiSilicon Kirin 9000SL 475.243 C
81 MediaTek Dimensity 1100 471.293 C
82 HiSilicon Kirin 990 462.066 C
83 Samsung Exynos 990 457.632 C
84 Samsung Exynos 1080 449.417 C
85 Qualcomm Snapdragon 782G 449.076 C
86 Qualcomm Snapdragon 855 Plus 436.738 C
87 Qualcomm Snapdragon 7 Gen 1 432.428 C
88 Qualcomm Snapdragon 855 429.777 C
89 MediaTek Dimensity 8020 426.891 C
90 HiSilicon Kirin 990E 422.239 C
91 Qualcomm Snapdragon 860 417.652 C
92 Qualcomm Snapdragon 778G Plus 416.515 C
93 Qualcomm Snapdragon 780G 414.162 C
94 Samsung Exynos 9825 403.546 C
95 MediaTek Dimensity 7300-Ultra 403.210 C
96 MediaTek Dimensity 1000+ 401.736 C
97 Qualcomm Snapdragon 778G 400.426 C
98 Qualcomm Snapdragon 7s Gen 2 399.300 C
99 Samsung Exynos 9820 390.207 C
100 Qualcomm Snapdragon 6 Gen 3 389.396 C

Tips Memilih Chipset Ala TeknoGeng.ID

Banyak orang beli HP kayak lagi beli motor balap cuma lihat top speed. Padahal yang dipakai tiap hari itu macet-macetan, bukan sirkuit.

Sama kayak chipset.

Lo lihat skor AnTuTu 3,8 juta terus mikir, “Wah ini pasti jauh lebih kencang dari yang 3,2 juta.” Padahal selisih itu dalam pemakaian harian bisa jadi gak kerasa sama sekali.

Makanya sebelum lo jatuh cinta sama angka benchmark, pahami dulu beberapa hal krusial ini.

1. Throttling & Suhu

Misalnya soal suhu.

Ini yang paling sering bikin orang kecewa.

Ada chipset yang kalau dites 3–5 menit pertama performanya brutal banget. Skor tinggi, FPS stabil, grafik mentok kanan. Tapi begitu dipakai main 20–30 menit, suhu naik drastis. Sistem langsung nurunin clock speed biar gak overheat.

Itu namanya thermal throttling.

Dan di situ lo baru sadar… performa mentah itu gak ada artinya kalau gak stabil.

Chipset yang bagus bukan cuma yang bisa sprint cepat. Tapi yang bisa lari maraton tanpa ngos-ngosan.

Makanya lo harus lihat:

  • Hasil stress test 20–30 menit
  • Stabilitas FPS, bukan cuma FPS tertinggi
  • Temperatur rata-rata saat gaming berat

Kadang chipset yang skornya sedikit lebih rendah justru lebih stabil dan lebih enak dipakai lama.

Percaya deh, stabil itu jauh lebih satisfying daripada cuma ngebut 5 menit pertama.

2. Modem & Kualitas Sinyal

Banyak orang lupa kalau chipset itu juga mengatur modem dan konektivitas.

Dan di Indonesia, kualitas sinyal itu bukan hal sepele. Kita bukan tinggal di kota dengan jaringan super konsisten di setiap sudut.

Ada chipset yang performanya biasa aja tapi modemnya kuat, stabil pindah jaringan, dan gak gampang drop ke 4G saat sinyal 5G melemah.

Sebaliknya, ada juga chipset flagship yang di atas kertas buas, tapi optimasi modemnya belum matang. Hasilnya? Sinyal naik turun bikin kesel.

Buat lo yang:

  • Sering kerja mobile
  • Main game online kompetitif
  • Upload konten rutin

Stabilitas koneksi itu sama pentingnya dengan performa CPU.

Karena percuma FPS 120 kalau ping merah.

3. Efisiensi Daya: Bukan Cuma Soal Baterai Besar

Chipset modern 3nm memang lebih efisien. Tapi implementasi tiap brand beda-beda.

Chipset kencang tapi boros bakal bikin:

  • Baterai cepat habis
  • Suhu naik
  • Siklus charge makin sering
  • Umur baterai lebih cepat turun

Kadang orang salah kaprah. Mereka pikir “Ah baterai 5.000 mAh aman.” Padahal kalau chipset-nya haus daya, tetap aja sore udah lowbat.

Jadi selain lihat kapasitas baterai, lihat juga reputasi efisiensi chipset tersebut.

HP yang efisien itu bikin hidup tenang. Gak panik cari colokan tiap sore.

4. Dukungan Software & Umur Panjang

Ini sering diremehkan.

Chipset flagship biasanya diprioritaskan untuk:

  • Update Android besar
  • Patch keamanan
  • Optimalisasi fitur AI baru

Chipset entry kadang dapat update lebih singkat.

Kalau lo beli HP buat dipakai 3–4 tahun, pastikan chipset-nya masih relevan untuk update jangka panjang.

Karena performa tanpa dukungan software itu kayak mobil kencang tapi gak pernah diservis.

5. Sesuaikan Dengan Kebutuhan, Bukan Ego

Ini yang paling penting.

  • Lo gamer kompetitif? Tier S atau A masuk akal.
  • Lo cuma buat sosmed, nonton, dan kerja ringan? Tier B atau bahkan C bisa cukup banget.

Jangan sampai beli chipset dewa cuma buat scroll TikTok dan WhatsApp.

Itu ibarat beli PC RTX 5090 cuma buat buka Excel.

Bukan gak boleh. Tapi ya… mubazir.

HP Lo Masuk Tier Mana? Dan Lo Butuh Upgrade Gak?

Sekarang kita ngobrol jujur-jujuran.

HP yang lagi lo pakai sekarang itu masuk tier mana di daftar 100 tadi?

  • Tier S? Masih dewa.
  • Tier A? Masih ganas dan relevan.
  • Tier B? Aman buat mayoritas orang.
  • Tier C? Selama gak bikin emosi, ya masih oke.

Pertanyaannya bukan cuma “peringkat berapa”.

Tapi:

  • Masih lancar gak buat kebutuhan lo?
  • Pernah kesel gara-gara lag?
  • Sering panas gak?
  • Baterai masih tahan seharian?

Kadang kita kepancing upgrade cuma karena lihat yang baru lebih kencang. Padahal kebutuhan kita gak berubah.

Tapi kadang juga kita denial. HP udah mikir 2 detik tiap buka kamera, tapi masih bilang, “Ah masih bisa lah.”

Upgrade itu bukan soal gengsi. Tapi soal kenyamanan jangka panjang.

Kalau HP lo sekarang masih stabil, baterai sehat, dan gak bikin kesel — mungkin lo belum butuh ganti.

Tapi kalau tiap buka game drop frame, buka kamera delay, dan baterai cepat habis… mungkin sudah waktunya naik tier.

Sekarang gue pengen tahu:

  • HP lo apa?
  • Chipset-nya apa?
  • Masih worth it gak di 2026 menurut lo?

Tulis di komentar.

Kita bedah bareng. Siapa tahu ternyata HP lo masih bisa rata kanan tanpa harus keluar duit lagi.

Share Article

Picture of Cecep Suparman

Cecep Suparman

Cecep Suparman adalah seorang Techno-Analyst di TeknoGeng.ID yang memiliki spesialisasi dalam membedah arsitektur chipset dan performa perangkat keras mobile. Dengan pengalaman lebih dari 5 tahun mengikuti perkembangan industri semikonduktor, Cecep fokus memberikan panduan belanja objektif berdasarkan perbandingan benchmark dan data teknis produsen. Tujuannya adalah membantu pembaca TeknoGeng.ID menemukan perangkat dengan value-for-money terbaik tanpa terjebak janji pemasaran.